Postingan

Sulit menyerah

Gambar
  Apa kabarmu? Gumamku, tetapi aku tidak sebenarnya bertanya. Tidak ada laporan kejadian, tidak ada momen mengesankan, atau cerita yang kamu bagikan. Apa kabar kita? Pikiranku berbalut sedikit harap, meski setipis lapisan udara. Ada momen yang kulihat kembali, ketika ada ruang yang terisi. Aih, tetapi manusia cepat berubah. Apa sebaiknya aku menyerah? Namun sejauh yang aku tahu, aku tidak mudah menyerah. Maka semoga beruntung ya, kamu. Purwokerto , 30 November 202 3 Mungkin perlu menyibukkan diri

Mengenali hujan

Gambar
  " Hujannya deras juga," Aku tidak langsung merespon perkataannya karena tengah mengetik membalas pesan dari mama. Lantas aku bertanya karena melewatkan momen menjawab tadi, "gimana?" bermaksud meminta dia mengulangi perkataannya. " Akhir tahun, musim hujan." sahutnya. " Memang begitu, selalu begitu, bukan?" aku bertanya sekaligus mengiyakan. " Iya, hujannya deras juga." ucapnya lagi, menerawang ke depan. Ada lalu lalang kendaraan, kami tadi mampir sebentar membeli sedikit camilan. Aku memandangnya tak mengerti. Langit hari ini benar-benar bersih, tidak ada satupun awan menggantung. Matahari dengan bangga memancarkan sinar cerahnya, khas siang hari di pinggiran kota ini. Hujan di sebelah mana yang dia bicarakan? "Are you okay?" cetusku pelan, sedikit menggamit lengannya. Sesaat tidak ada jawaban. Sekarang aku melihat mendung yang perlahan kian menggelap. Bukan, bukan di bentangan langit ini. "Hujannya deras sekali...

Bermuara

Gambar
T ernyata yang berawal akan berakhir, ya? Momen- momen selebrasi memang menyenangkan untuk didokumentasi, tetapi selagi melakukannya, sekelebat segenap memoriku seolah terputar kembali.  Aku yang dulu masuk kuliah masih berangkat pakai sepeda, belum mahir bersepeda motor. Aku yang dulu ketika di kos tidak ada kegiatan justru memilih membaca ulang materi kuliah, atau mengintip materi esok hari. Aku yang dulu masih teramat polos, pakai bedak yang laksana sekali tertiup angin hilang sudah ia. Aku yang dulu senang hidup prihatin, menghemat pengeluaran dengan berlangganan rames seharga tiga ribu di warung langganan sebelah kosku.  Aku yang dulu perlahan terus belajar, belajar dan belajar, tidak terbatas di kelas dengan pendingin ruangan saja. Ada kalanya ia setiap hari mengurusi berbagai acara, warna warni kalender digital dibuatnya, supaya tidak pusing kepala atau saling bertabrakan. Ada kalanya ia belajar berorganisasi, menyatukan satu pikiran dengan yang lainnya, dengan teman-...

Mendekap keniscayaan

Gambar
Lucunya manusia, ia selalu takut mati. Ia membenci ide bahwa kelak suatu hari nanti ia akan dilupakan. Itu sudah menjadi suatu keniscayaan. Tetapi manusia, tidak menyerah begitu saja. Maka kemudian dia pahat berbagai cerita, tulisan, membuat jejak, agar setidaknya orang tahu, ia pernah menapaki bumi ini, dan bukannya tanpa makna. Aku sendiri adalah manusia itu. Aku sering mempertanyakan maknaku, maka aku buat tulisan untuk mengabadikan sedikit banyak isi pikiranku. Barangkali akan ada yang membaca. Barangkali akan ada yang menyukainya. Barangkali ada manfaat yang bisa diantarkannya. Barangkali emosinya bisa disampaikan lewat kata. Barangkali. Barangkali itu tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Kita hanya berbicara kemungkinan, posibilitas, apa yang bisa saja terjadi. Maka biarkan juga manusia ini menyediakan berbagai kemungkinan untuk dirinya sendiri.  Jadi.. terima kasih sudah mau membaca sekelebat ceritaku. Aku tak tahu apa yang kamu dapatkan darinya, tetap...

Betapa Lelahnya

Gambar
  Betapa lelahnya jika yang kita lakukan mengharap feedback dari manusia Betapa lelahnya jungkir balik kesana kemari tetapi tanpa ada yg mengucap terima kasih Betapa lelahnya kita berupaya mengerahkan segenap tenaga untuk diabaikan begitu saja Betapa lelahnya Betapa lelahnya kegiatanmu dari pagi sampai mentari tenggelam Gelap gelapnya jalanan tetap diterjang atas apa yang diperjuangkan Satu dua peluh apa rasanya, bukan prioritas utama pikiran kita Pegal pegal badan terasa lungkrah, dengan kasur ia mendamba bertemu Aih , betapa lelahnya Betapa lelahnya jika yang kita lakukan sebatas ini Berusaha ini itu tapi tidak diniatkan kemana muaranya Betapa lelahnya jika lelahmu terasa kosong dan hampa , melupakan peranmu selaku hamba Betapa lelahnya jika berjuangmu dengan pamrih, mengharap balasan manusia Padahal kau tahu ada alasan yang jauh lebih mulia, seakan menyulap semua lelahmu jadi bermakna Yaitu jika semua yang kamu tunaikan, hanya untuk mengharap ridha Al...

Menabung sabar

Gambar
K alau dipikir-pikir, mungkin sesekali kita bakal ketemu orang-orang yang nggak sabar. Terkadang, tak sabarnya orang lain juga menguji kesabaranmu. Bisa dari perbuatan yang dilakukan, atau pertanyaan yang dilontarkan. Yang sejujurnya, mungkin tidak akan pernah selesai selama kita masih menapaki bumi. "Udah selesai ya?" "Wisuda besok?" "Kapan ini?" "Kapan itu?' "Kapan?" Memang, mungkin ini waktunya kamu belajar sabar meskipun yaampun, prosesnya nggak enak sama sekali. Berurusan dengan sakit hati, atau menahan diri untuk tak berbalik melukai. Yang kamu baru ketahui kemarin, dewasa ternyata bukan sesederhana perkara usia. Ada juga yang masih kekanakan meski umur terus berjalan. Maka apa jawabannya? Mengolah diri, mengolah hati, ditata satu per satu, supaya rapi. Itu adalah hal yang dalam kendali, kita mengusahakan sendiri. Kata temanku, belajar itu proses yang tidak pernah berhenti. Okelah kalau kau usai mengenyam pendidikan hingga ...

Berbenah, berbenah

Gambar
Terbangun dari tidur, aku mengecek empat deret angka pada ponsel. Ah, tengah malam lewat sedikit, jam satu. Aku tertidur amat awal, karena tidak bisa menahan kantuk yang hadir dari siang, tapi belum kuturuti saat itu juga. Perjalanan bolak-balik antara rumah dan kampus meskipun terlihat ringan, tetapi kadang melelahkan. Entah, mungkin karena aku berkutat dengan hal yang terus aku usahakan, sambil memikirkan hal-hal lain ke depan, sesekali asyik berbincang dengan kawan menanyakan kabar lewat ketikan kata, membiarkan diriku terdistraksi.  Hujan singkat mewarnai perjalanan pulang, menyisakan aku dan jas hujanku yang kemudian kering sepanjang jalan. Mengisi bahan bakar yang tinggal satu setrip, mengantre diantara orang-orang yang pulang kerja. Hati kecil membatin, yaAllah, semoga aku pun lekas seperti mereka nantinya, turut mencari rezeki untuk menghidupi diri. Semoga Allah ridha dan berkahi waktu-waktu dan proses yang tengah kujalani. Lantas berlanjut aku singgah membeli titipan mama...