Secondhand happiness

 


Salah satu bagian yang paling kusukai dalam hidup adalah, melihat teman atau orang terdekatku mendapatkan apa yang diinginkannya. Dalam hal ini, yang kubahas berupa barang yang ada bentuknya secara fisik. Menurutku, melihat mereka memperoleh sesuatu yang menjadi wishlist-nya adalah pengalaman yang turut membahagiakan, menggembirakan pula bagiku.

Aku teringat bagaimana teman terdekatku pertama kali membelanjakan gaji-gaji hasil pertama kali ia bekerja. Senyumku tanpa sadar terbit mengamati bagaimana ia membeli sepatu atau sandal yang tumben sekali warnanya cerah, sedang aku paling paham selama ini yang dia pilih selalu warna hitam. Atau bagaimana ia bersemangat bercerita bahwa ia membeli perintilan lucu untuk diletakkan di meja kerjanya di kantor. Aku turut bangga bagaimana secara finansial, ia perlahan menjadi lebih leluasa. Bukan hanya ia—mungkin kita semua. Mendewasa mungkin banyak nggak enaknya, tetapi setidaknya sebagian penghasilan kita dapat dibelikan sesuatu untuk menyenangkan kita.

Aku turut senang bagaimana temanku yang lain membeli buku-buku yang tadinya tersimpan dalam keranjang, lantas menaruh sumpah, 'ini terakhir kalinya aku beli buku di bulan ini,'. Ah, klasik. Sure, whatever you say, mau beli lagi juga tak apa! Toh itu uang hasil kerja kerasmu, sesuatu yang kamu usahakan sendiri. Aku siap sedia mendengarkan review atau reaksimu terhadap buku-buku bagus atau gila (kamu yang menyebutnya gila) kesukaannya, meskipun kita menggemari genre yang sama sekali berbeda. Menyenangkan melihat sinar mata berkilauan kala ia bercerita dan banyak bicara.

Membersamai momen kawan menentukan pilihan juga tak kalah serunya, kadang pendapat kita juga dimintainya: mending yang ini, atau yang itu? Maka masukan akan kita berikan, kadang dengan landasan satu dua pertimbangan, entah hal teknis atau apa. Seperti ah yang ini mungkin akan cepat kotor, apa kamu nggak papa ngerawatnya? Atau, yang itu kayanya lebih cocok sama personality kamu, warna dan style-nya kamu banget. Atau, mending yang satunya lagi aja, keliatannya bakalan lebih sering kepake. Well, meski keputusan alias decision making akan kembali kepada si empunya hajat keperluan. Tapi senang untuk bisa ikut dilibatkan dalam hal-hal kecil dalam keseharian.

Dan lain-lain, dan lain-lain. Yang kujabarkan disini hanya beberapa contoh saja, aslinya ada banyak yang serupa juga.

Kenapa ya, mungkin aku menyukai ini karena untuk diriku sendiri, aku terkadang susah untuk membelanjakan apa yang aku mau. Seringkali, aku merasa apa yang kupunya masih cukup, jadi belum terlalu urgent untuk membelinya. Jadi menyaksikan orang lain melakukannya untuk diri mereka feels refreshing and exciting. Mungkin, mungkin sesekali aku perlu agak longgar sama diri sendiri. Bolehlah kamu membeli apa yang kamu mau, toh itu juga hasil kerja kerasmu. Oke, coba sekarang aku rumuskan daftar keinginanku, besok besok kita belanjakan betulan, ya?


Banyumas, 11 Oktober 2026

Mungkin karena habis tanggal kembar jadi kepikiran, ya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Surat Keterangan Kesehatan, Buta Warna, dan Bebas NAPZA di RSUD Banyumas

Tugas utama

Rumah (2)